Setiap kali aku melihat pohon menegakkan tubuhnya ke arah langit, aku
merasa sedang menyaksikan doa yang tumbuh dari bumi. Di antara akar yang
mencengkeram tanah dan cabang yang merentang ke udara, ada keseimbangan
yang lembut: bumi dan langit saling menyapa, saling menopang kehidupan.
Dalam setiap helai daun yang bergetar, aku merasakan dzikir yang tidak terucap,
tetapi nyata dalam keheningan semesta. Alam seakan sedang bersujud,
menegaskan bahwa segala yang hidup tengah memuji Sang Pencipta dengan
caranya sendiri.
Sejak kecil aku diajarkan, bahwa berdoa berarti sama saja dengan
menengadahkan tangan ke langit. Namun seiring waktu, aku menyadari bahwa
doa tidak selalu berbentuk kata-kata yang diucapkan. Terkadang doa hadir dalam
diam, dalam tetes hujan yang jatuh ke tanah, dalam biji yang tumbuh menjadi
pohon, dalam tangan yang menanam tanpa pamrih. Di situlah aku memahami,
bahwa doa dapat tumbuh. Ia berakar di bumi dan berbuah di langit, seperti
kehidupan itu sendiri.
Kehidupan mengajarkanku, bahwa iman tidak berhenti di sajadah; ia juga
hidup dalam setiap tindakan yang menyelamatkan bumi. Manusia diciptakan
bukan sebagai penguasa mutlak, melainkan sebagai khalifah dan penjaga
keseimbangan. Ketika kita menanam satu pohon, menjaga sungai dari sampah,
atau sekadar tidak membuang air dengan sia-sia, sejatinya kita sedang
menjalankan perintah Tuhan untuk menjaga ciptaan-Nya. Setiap langkah kecil itu
adalah bagian dari ibadah yang sering terlupakan.
Namun di tengah kemajuan yang kita banggakan, bumi sering kali
menangis dalam diam. Sungai yang dulu jernih kini berwarna keruh, udara yang
dulu menyejukkan kini menyesakkan, dan tanah yang subur perlahan gersang
karena keserakahan manusia. Q.S. Ar-Rum: 41 telah lama mengingatkan, “Telah
tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan
manusia.” Ayat ini bukan sekadar peringatan, tetapi cermin dari realitas hari ini.
Kita telah terlalu jauh dari akar spiritual yang mengajarkan keseimbangan dan
kasih terhadap semesta.
Aku pernah melihat seorang kiai tua di pesantren menanam pohon di tepi
halaman masjid dengan tangan gemetar. Saat kutanya mengapa, ia menjawab
lembut, “Setiap pohon adalah doa yang tidak pernah berhenti.” Kata-kata itu
menancap dalam benakku. Pohon memang tidak bersuara, tetapi ia berzikir dalam
pertumbuhannya, memberi oksigen, memberi keteduhan, memberi kehidupan.
Dalam pandangan ekoteologi, segala sesuatu di alam raya adalah bagian dari tasbih besar yang terus bergema, dan manusia seharusnya menjadi bagian dari
irama itu, bukan pengganggunya.
Akar adalah lambang keterikatan, tempat kehidupan berpijak. Tanpa akar,
pohon akan tumbang; tanpa spiritualitas, manusia kehilangan arah. Sementara
langit adalah arah doa, tempat pengharapan, lambang keabadian. Maka, di antara
akar dan langit, tumbuhlah kehidupan yang seimbang, menghubungkan bumi
yang nyata dengan langit yang suci. Menjaga keseimbangan itu adalah panggilan
iman. Iman yang tidak hanya dipahami sebagai keyakinan dalam hati, tetapi juga
sebagai gerak yang menumbuhkan rahmat bagi seluruh makhluk.
Kerusakan alam sesungguhnya adalah tanda bahwa manusia kehilangan
hubungan spiritual dengan bumi. Alam bukan benda mati; ia punya ruh yang
menautkan kita kepada Tuhan. Ketika gunung digunduli dan laut dipenuhi plastik,
kita sedang memutus komunikasi itu. Karena itu, memulihkan bumi berarti juga
memulihkan hubungan batin dengan Pencipta. Hal itu mengajarkanku, bahwa
mencintai alam sama dengan memperpanjang doa agar kehidupan terus berlanjut.
Dalam diamnya akar yang bekerja di bawah tanah, ada kesabaran yang
luar biasa. Ia tidak terlihat, tetapi menopang segalanya. Begitu pula dengan amal-
amal kecil yang kita lakukan untuk bumi. Mungkin tak ada yang memuji atau
mencatatnya, tapi Tuhan melihat setiap tetes air yang kita hemat, setiap pohon
yang kita rawat, setiap makhluk kecil yang kita lindungi. Semua itu adalah doa
yang tumbuh perlahan, mengakar dalam keikhlasan, dan menggapai langit dengan
harapan.
Bumi yang kita pijak adalah amanah, bukan warisan. Kita tidak
mewarisinya dari leluhur, tetapi meminjamnya dari anak cucu. Maka, mencintai
bumi bukan sekadar sikap ekologis, melainkan tanggung jawab spiritual. Ia
meneguhkan makna tauhid: bahwa seluruh kehidupan bersumber dari Yang Esa
dan harus dikembalikan dengan penuh kasih dan tanggung jawab. Dalam
kesadaran itulah manusia menemukan kesejatiannya sebagai hamba.
Suatu hari, ketika bumi semakin letih menanggung dosa-dosa manusia,
semoga masih ada doa yang tumbuh di antara akar dan langit, doa yang
meneduhkan, doa yang menjaga kehidupan, doa yang membuat kita ingat bahwa
mencintai alam adalah bentuk paling lembut dari mencintai Sang Pencipta.
Karena selama doa itu masih tumbuh, harapan tidak akan pernah punah.
Hi, this is a comment.
To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.